Seiring berkembangnya dunia fotografi di tanah air ini  dan semakin memasyarakat fotografi di indonesia .Sekarang tak hanya menggunakan kamera DSLR/Mirrorless saja, kini dengan smartphone pun kamu bisa menghasilkan foto yang tidak kalah bagus.

Hal ini bisa terjadi tentunya karena didukung dengan semakin baiknya kualitas kamera pada smartphone dimana masing-masing produsen saling bertarung mengeluarkan produk produk mereka yang semakin bagus. Bahkan tak jarang smartphone mid-end hingga high-end sudah dibekali dengan pengaturan kamera secara manual, akhirnya mau tak mau pengguna smartphone canggih harus paham dengan yang namanya Aperture, ISO dan Shutter Speed agar bisa memaksimalkan fungsi dari kamera HP yang dimilikinya.

Maka dari itu pada kesempatan kali ini saya mau membahas apa sih segitiga exposure dan apa saja yang terdapat pada segitiga exposure.Dalam segitiga exposure terdapat  Aperture, ISO dan Shutter Speed,

Apakah  pengertian Aperture, ISO dan Shutter Speed dalam dunia fotografi.simak penjelasan berikut ini:

memahami-iso-aperture-shutter-speed-1

ISO, Aperture dan Shutter Speed biasa juga disebut dengan The Exposure Triangle atau dalam bahasa kita diartikan sebagai segitiga eksposur.

Apa itu Aperture?

Aperture atau bukaan lensa adalah ukuran seberapa besar atau kecil terbuka-nya iris pada lensa yang diukur dengan f-number (wikipedia).

Semakin besar bukaan lensa (f-number semakin kecil), semakin banyak pula cahaya yang masuk ke dalam sensor kamera. Alasannya sederhana, ibarat jendela, semakin lebar dibuka maka cahaya yang masuk semakin berlimpah juga.

Contoh :

Pada aperture f/1.4, bukaan lensa lebih besar dibandingkan dengan f/1.8;

Pengaruh Besar Kecil Bukaan Lensa (Aperture) terhadap Gambar yang Dihasilkan

Besar kecilnya bukaan lensa akan berpengaruh pada hasil gambar yang didapatkan.

Semakin besar bukaan lensa, semakin sempit depth of field (ruang tajam / foto semakin bokeh/blur) yang diperoleh, dan sebaliknya.

Lihat gambar berikut..

Memahami Aperture, ISO dan Shutter Speed (Segitiga Exposure) Di Fotografi
https://fstoppers.com/education/

Jadi kalau ingin mendapatkan foto yang bokeh (biasanya digunakan untuk pemotretan manusia / potraiture), gunakan aperture terbesar (f-number terkecil) yang dimiliki oleh lensa kamu, contoh : f/1.2.

Untuk mendapatkan ruang tajam yang luas (biasanya pemotretan landscape), gunakan bukaan terkecil (f-number terbesar) di lensa kamu, contoh : f/22.

Pengaruh Besar Kecil Bukaan Lensa (Aperture) terhadap Shutter Speed

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, semakin besar bukaan lensa maka intensitas cahaya yang masuk akan semakin banyak.

Hal ini tentu berakibat pada Shutter Speed..

Karena jumlah cahaya yang masuk semakin banyak, maka shutter speedyang kamu dapatkan akan semakin cepat.

Lihat gambar..

Memahami Aperture, ISO dan Shutter Speed (Segitiga Exposure) Di Fotografi
https://fstoppers.com/education/

.. di f/1.4shutter speed yang diperoleh 1/1000s, sedangkan di f/8.0 shutter speed yang diperoleh 1/30s.

Apa Itu ISO?

Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO maka semakin sensitif sensor kamera terhadap cahaya.

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang setting ISO, coba bayangkan sekumpulan semut pekerja.

  • Sebuah ISO adalah sebuah semut pekerja, jika kamera diatur ke ISO 100, artinya kamu memiliki 100 semut pekerja; dan
  • Jika kamera diatur ke ISO 200, artinya kamu memiliki 200 semut pekerja.

Tugas setiap semut pekerja adalah memungut cahaya yang masuk melalui lensa dan bertugas membuat gambar. Jika menggunakan 2 buah lensa yang masing-masing diatur pada aperture f/1.4, dengan pengaturan ISO kamera pertama menggunakan ISO 200 sementara kamera kedua ISO 100, maka kamera siapakah yang paling cepat menghasilkan gambar?

Jelas kamera pertama (ISO 200) kan?

Jadi secara garis besar:

  • Dengan menaikkan ISO dari ISO 100 ke ISO 200 (dalam aperture yang selalu konstan – kunci aperture di f/1.4 atau melalui mode Aperture Priority – A atau Av), akan mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah gambar hingga 2 kali lebih cepat dari Shutter Speed 1/125 ke 1/250 detik;
  • Menaikkan ISO, membuatmu bisa bekerja dengan kondisi cahaya yang minim;
  • Saat menaikkan ISO ke 400, akan memangkas waktu pembuatan gambar hingga separuhnya lagi yaitu 1/500 detik;
  • Setiap kali mempersingkat waktu exposure sebanyak separuh, artinya kamu menaikkan eksposur sebesar 1 Stop.

Kamu bisa mencoba pengertian ini dalam kasus Aperture.

Cobalah atur Shutter Speed selalu konstan pada 1/125 s (atau melalui mode Shutter Priority – S atau Tv) dan ubah-ubahlah pengaturan ISO dalam kelipatan 2, misal dari 100 ke 200 ke 400 dan seterusnya, lihatlah perubahan besaran aperture kamu.

Mengapa Perlu Menaikkan ISO?

Jika dalam kondisi minim cahaya, kamu sudah menggunakan Aperturedengan bukaan terbesar, mengatur Shutter Speed pada kecepatan paling “wajar”, namun tidak juga bisa menghasilkan eksposur yang normal..

Memahami Konsep ISO Dalam Dunia Fotografi
Contoh hasil dengan menggunakan aperture yang tetap

.. maka langkah terakhir yang harus kamu lakukan adalah dengan menaikkan ISO.

Adakah Pengaruh Menaikkan Nilai ISO?

Menaikkan ISO sering dilakukan oleh fotografer saat memotret dalam kondisi kurang cahaya. Hal ini bertujuan agar tetap mendapatkan Shutter Speed yang “wajar” sehingga bisa meminimalisir hasil foto yang shake (goyang) atau blur.

Namun dengan menaikkan nilai ISO, akan mengakibatkan kualitas gambar yang dihasilkan menjadi berkurang, akan muncul noise atau bintik-bintik pada foto.

Berikut perbandingan noise dengan ISO tertentu pada kamera Canon Powershot S90 :

Adakah Pengaruh Menaikkan Nilai ISO?
http://www.hardwarezone.com.sg/review-revolutionary-compact-canon-powershot-s90/performance-5a

Namun teknologi terus berkembang, kamera-kamera high-end saat ini sudah menawarkan peningkatan dalam merender gambar dengan menggunakan ISO tinggi agar hasil yang didapatkan tetap terlihat baik.

Selain itu, kemampuan rendering software untuk menghilangkan noise pun semakin meningkat.

Contohnya kamu bisa menggunakan Photoshop CC untuk mengurangi noise.

Segitiga Ekposure, Mendapatkan Eksposur secara Kreatif dan Benar

Exposure dalam dunia fotografi adalah banyaknya cahaya yang jatuh ke medium (film atau sensor gambar) dalam proses pengambilan foto.

Untuk mendapatkan exposure yang benar (correct exposure), dibutuhkan pengaturan ISOAperture serta Shutter Speed yang tepat sesuai kebutuhan. Kombinasi ISOAperture dan Shutter Speed ini biasa disebut sebagai segitiga exposur (The Triangle Exposure).

Kombinasi ketiganya digunakan untuk menghasilkan gambar yang kreatif dengan eksposur yang benar.

Kamera secara otomatis dapat melakukan ini dengan perhitungan yang akurat, kamu tinggal atur saja ke pengaturan otomatis.

Tapi..

Tak cukup hanya correct exposure saja yang kamu butuhkan. Kamu harus bisa membuat creative exposure atau eksposure kreatif. Disinilah kreativitasmu berperan, tak cukup hanya segitiga eksposure saja.

Untuk mendapatkan creative exposure, kamu harus memahami dulu apa itu ISOAperture serta Shutter Speed pada kamera.

Pada kondisi cahaya normal, meningkatkan ISO dari ISO 200 ke 400 (satu stop) akan meningkatkan kecepatan shutter dari 1/30s ke 1/125s (turun 2 stop).

Berikut contoh penerapannya..

Contoh Pemotretan Potraiture :

Kamu ingin memotret manusia (potraiture) dengan mengisolasi objek agar bagian background menjadi bokeh (blur), maka f-number yang digunakan adalah bukaan terbesar lensa, misalnya f/1.4.

Segitiga Ekposure, Mendapatkan Eksposur Secara Kreatif dan Benar
https://fstoppers.com/education/

Jika kondisi cahaya cukup, kamu bisa menekan ISO hingga ke ISO 100 atau ISO 50 (pada fullframe) agar foto yang dihasilkan tidak noise.

Perhatikan shutter speed..

Jika objek diam, usahakan kecepatan shutter tidak kurang dari 1/60s atau minimal 1/Focal Length dari focal length (zoom) yang kamu gunakan. Tujuannya agar foto tidak shake (goyang).

Misal kamu menggunakan lensa dengan focal length 85mm, maka shutter speed minimal yang harus kamu gunakan adalah 1/85s.

Sebagian fotografer bahkan menyarankan agar menggunakan shutter speedminimal 1/2xFocal Length, berarti minimal 1/170s.

Jika kecepatan minimal tidak didapatkan karena kondisi cahaya yang kurang, maka langkah yang harus kamu lakukan adalah dengan menaikkan ISO. Misalnya dari ISO 100 ke ISO 400 dan seterusnya hingga mendapatkan kecepatan minimal tadi.

. alasannya,

.. daripada mendapatkan foto shake (goyang), lebih baik foto agak noise karena foto goyang tidak bisa dikoreksi dengan software editing foto sementara foto noise masih bisa dikoreksi bahkan oleh kamera sendiri tanpa bantuan software.

Contoh Pemotretan Landscape (Pemandangan)

Foto landscape idealnya adalah foto yang tajam secara keseluruhan (larger depth of field).

Segitiga Ekposure, Mendapatkan Eksposur Secara Kreatif dan Benar
https://fstoppers.com/education/

Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, untuk mendapatkan foto yang tajam secara keseluruhan maka f-number yang digunakan adalah angka terbesar di lensa kamu, biasanya f/22.

Semakin besar f-number, semakin kecil jendela terbuka sehingga cahaya yang masuk semakin minim. Hal ini akan mengakibatkan shutter speed yang dibutuhkan semakin lama.

Kalau shutter speed masih wajar (1/FL), kamera bisa dipegang secara handheld.

.. jika shutter speed sangat rendah, wajib gunakan tripod.

Pada pemotretan landscape, usahakan menggunakan ISO paling rendah misalnya ISO 100 atau ISO 50 karena foto landscape pada umumnya harus meminimalisir noise agar foto terlihat sangat tajam.

Dengan rendahnya ISO, lagi-lagi shutter speed akan semakin panjang.

Alih-alih menaikkan ISO, fotografer landscape akan memilih menggunakan tripod sehingga shutter speed yang diperoleh semakin panjang dan hasil foto lebih dramatis.

.. misalnya air terjun yang terlihat lembut, pergerakan awan yang seperti slow motion.

Itulah mengapa fotografer landscape selalu membawa tripod kemanapun ia pergi.

semoga Bermanfaat

source :https://www.kamerashot.com/memahami-iso-fotografi/

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *